Sejarah
Berakar dari pendidikan Al-Qur’an
Tahun 1964 pondok pesantren Al-Qur’an didirikan oleh KH Nursalim dan Hj Yuhanit di Desa Narukan, Kecamatan Kragran, Kabupaten Rembang Jawa Tengah. KH Nursalim sang pendiri adalah putra dari Mbah Nur Syam dan Mbah Siani yang lahir di Desa Tasikmadu Palang Tuban Jawa Timur. Beliau adalah sosok Kyai yang sangat alim dalam ilmu-ilmu keislaman. Untuk mendalami ilmu-ilmu tersebut KH Nursalim muda menimba ilmu kepada KH Zubaidi Tuban, KH Abdullah Salam Kajen Pati, KH Arwani Kudus, KH Mansyur Lasem Rembang dan di Sarang Rembang. Sanad kelilmuan beliau sangat jelas, hingga nyambung kepada Rasulullah SAW.
Riwayat Hj Yuhanit
Sedangkan Bu Nyai Hj Yuhanit lahir di Desa Narukan Kecamatan Kragan Rembang Jawa Tengah yang menjadi lokasi pondok Al Qur’an saat ini. Beliau merupakan putri dari Mbah Sidiq dan Mbah Fatimah, dua sosok yang merintis pesantren Al Qur’an di Narukan dengan pengeloaan dan sifat yang masih model kuno. Meski demikian pondok rintisan beliau ini adalah salah satu pondok pesantren tertua di Rembang dan di kawasan Pantura Jawa Tengah. Kealiman dan kesungguhan kedua beliau sangat dikenal oleh kalangan santri pada zamannya. Bu Nyai Yuhanit ketika masih umur 6 tahun mondok di pondok pesantren KH Mansyur Lasem. Kemudian melanjutkan di pondok pesantren Darul Ulum Peterongan Jombang di bawah asuhan langsung KH Romli dan KH Mustain.
Wasiat dan rumah gladak
Pendirian pesantren Al Qur’an yang saat ini ada, merupakan wasiat dari Mbah Sidiq. Yang mana sebelum beliau wafat, berwasiat kepada Mbah Fatimah agar anaknya Hj Yuhanit yang kala itu akrab dipanggil ‘Nik’ untuk mendirikan atau melanjutkan Pondok Pesantren Al Qur’an. "Nik mbesok sesuai wasiah abahmu, awakmu duwe bojo sing ahli Al Qur’an “(Nik sesuai wasiat Abahmu, nanti kamu punya suami yang ahli Al Qur’an),” kata Mbah Fatimah.
Kemudian oleh KH Zubaidi, Hj Yuhanit dinikahkan dengan KH Nursalim. Mbah Sidiq juga berwasiat bahwa di pondok juga harus ada kajian khusus Al Qur’an. Maka wasiat itu kemudian diwujudkan pada tahun 1964 tersebut. Ketika itu, kegiatan pengajian Al Qur’an dimulai di rumah khas Jawa Tengah yang masih berbentuk gladak. Yaitu semacam rumah panggung dengan lantai dari kayu. Di rumah gladak itulah dirintis pondok Al Qur’an dengan santri putra dan putri. Sudah banyak ulama yang dilahirkan dari rumah gladak yang hingga saat ini masih dipertahankan keberadaannya.
Keluarga dan penerus pesantren
Sementara itu, pasangan KH Nursalim dan Hj Yuhanit ini kemudian dikaruniai 9 anak, yakni Nasirul Mahasin, Abdur Rouf (Alm), Ahmad Bahauddin, Siti Mufadotul Izah, Abdul Hakim, Kholishoh (Almh), Tamam (Alm), Zaimul Umam dan M Fuad. Mereka inilah yang saat ini bahu membahu melanjutkan dan membesarkan pendidikan Al Qur’an di Pondok Pesantren Narukan tersebut.
Menjaga tradisi pendidikan pesantren
Kepada para santrinya, KH Nursalim berharap agar santri santrinya hatinya slamet, akhlaknya mulia dan urip-urip agamane Allah. Dalam perjalannannya, salah satu putra KH Nursalim yang bernama Nasirul Mahasin sempat menjadi wakil Bupati Rembang tahun 2000-2005. Ketika itu sebenarnya sudah ada kesempatan untuk membesarkan pondok dengan membangun gedung yang lebih besar dengan fasilitas yang lengkap, karena pada saat itu Kabupaten Rembang mendapat jatah untuk mendirikan USB (Unit Sekolah Baru). Yaitu program bantuan mendirikan madrasah / sekolah dari pemerintah pusat. Ketika itu Gus Mahasin menawarkan program USB tersebut kepada abahnya KH Nursalim untuk membangun sekolah. Namun beliau belum berkenan. "Ora usah saiki kapan-kapan wae (jangan sekarang, kapan-kapan saja)" kata beliau kepada Gus Mahasin.
Maka akhirnya Gus Mahasin tidak meneruskan tawaran tersebut. Karena KH Nursalim masih mempertahankan model pesantren salaf. Dan di pesantren itulah KH Nursalim dan Hj Yuhanit menghabiskan umurnya untuk mengajar Al Qur’an. Beliau sangat total dan serius dalam mengajarkan Al Qur’an. Bahkan KH Nursalim kurang berkenan jika ada santri yang berpuasa sunah, tetapi belajarnya terganggu dan menjadi kurang bersemangat. "Kalau ada santri yang berpuasa tidak boleh. Sebab kamu sudah tak pasani. Sinauo seng sregep," begitu beliau pernah menyampaikan kepada para santri waktu itu.
Keteladanan dalam keseharian
Ketika mengatur pondok pesantren, KH Nursalim semasa masih hidup sangat peduli dengan kebersihan. Maka beliau punya obsesi pondok harus selalu bersih. Bahkan KH Nursalim dulu juga tak jarang menyapu sendiri halaman pondok pesantren setelah subuh setiap tahu ada yang kotor.
Beliau adalah sosok yang sangat perduli dengan santri santri nya, tidak perduli dari kalangan keluarga manapun dan bagaimanapun keadaanya, tak jarang santri dari keluarga tak mampu tetap diminta untuk mondok. Beliau sering dawuh kepada santri yang secara ekonomi kurang beruntung “Kalau ibu (bu Nyai) mangan, awakmu yo melu mangan” begitu dawuh beliau kepada santri.
Perkembangan lembaga pendidikan
Dalam perjalanan waktu, setelah lahirnya UU no 18 tahun 2019 tentang Pesantren, kemudian Gus Mahasin memelopori untuk mendirikan sekolah umum. Saat ini, di pondok pesantren Al Qur’an Desa Narukan Kecamatan Kragan kabupaten Rembang sudah memiliki Madrasah Diniyyah Madrasatul Qur’an wa Sholawat, MTs dan MA Nurussalam Mubarak, Ma’had Aly Takhasus Tafsir dan Ilmu Tafsir, dan terdapat juga LP3IA (Lembaga Pembinaan, Pendidikan, dan Pengembangan Ilmu Al Qur’an).
Pendidikan tinggi Ma’had Aly
Ma’had Aly Nurussalam Mubarok menyelenggarakan pendidikan Marhalah 1 dengan Takhassus Tafsir wa Ulumuhu. Izin pendiriannya tercantum dalam SK Nomor 1633 Tahun 2021, tertanggal 24 Maret 2021, yang diterbitkan oleh Direktur Jenderal Pendidikan Islam, Kementerian Agama RI.

Gedung Ulumul Qur’an, Narukan.
Identitas lembaga
| Nama lembaga | Ma’had Aly Nurussalam Mubarok |
|---|---|
| Takhassus | Tafsir wa Ulumuhu |
| Jenjang | Marhalah 1 |
| Nomor statistik | 241233170016 |
| Mudir | KH. Nasirul Mahasin |
| Alamat | Narukan RT 05 RW 02, Desa Narukan, Kecamatan Kragan, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah 59273 |
| [email protected] |